Banner
Perpustakaan SMK N 1 BalikpapRadio Suara EdukasiDinas P & K Prov KaltimDITPSMK Kemdikbud RIBursa KerjaSimulasi Digital
Login Member
Username :
Password :
Jajak Pendapat
Apa saja yang telah dilakukan pada web sekolah SMKN 1 balikpapan
Sekedar Tahu dan Bangga
Memanfaatkan Fasilitas
Melakukan Interaksi
Melakukan KBM
Unduh dan Upload File
Lihat
Statistik

Total Hits : 1569985
Pengunjung : 268688
Hari ini : 204
Hits hari ini : 599
Member : 835
IP : 54.198.134.127
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

humassmknsatubpn@yahoo.co.id    
Agenda
21 April 2018
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Twitter

Keluhan Siswa Tunjukkan Ketimpangan Pembelajaran & Evaluasi

Tanggal : 04/16/2018, 08:03:20, dibaca 10 kali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keluhan siswa mengenai soal Matematika pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/Sederajat menunjukkan adanya ketimpangan proses pembelajaran dan evaluasi. Soal Matematika pada UNBK SMA/Sederajat menggunakan pendekatan kemampuan berpikir level tinggi atau high order thinking skills (HOTS).   

Pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menekankan, HOTS bukan pelajaran, tetapi pendekatan. Jika ujian memakai model HOTS yang tidak pernah dikenalkan selama proses belajar maka dipastikan siswa kesulitan ketika mengerjakan soal.   

“Kalau tidak pernah dikenalkan, pasti tidak nyambung. Logikanya gamblang,” kata Abduhzen melalui telepon pada Ahad (15/4). 

Dia menerangkan pendekatan HOTS seharusnya sudah dikenalkan dalam proses belajar dan tidak muncul tiba-tiba sebagai soal. Anak harus dibiasakan dulu dibawa dalam suasana belajar nalar tinggi.    

Dalam proses belajar tersebut, sikap guru juga sudah harus menggunakan pendekatan HOTS. Guru harus dilatih untuk membawa anak didik dalam suasana belajar dengan nalar tinggi.   

Apalagi, penerapan pendekatan HOTS juga tidak mudah. Menurut dia, pendekatan belajar yang berlaku selama ini masih mempertahankan sistem yang mudah.  

Selama ini, pendekatan belajar hanya menekankan pada transfer pengetahuan dengan cara mengisi pikiran. “Itu masih bertahan, sementara ujiannya memakai HOTS. Hal itu jelas tidak nyambung,'' kata Abduhzen.  

Dia menambahkan selama ini belum ada rancangan perubahan sistem pembelajaran ke HOTS. Seharusnya, dia menyatakan, ada penjabaran atas Pasal 1 UU Sisdiknas sebagai basis untuk mengembangkan HOTS.  

“Itu harus diturunkan praktiknya. Jangan hanya minta guru pakai HOTS, mana mereka mengerti,” ucap Abduhzen.  

Dia melanjutkan kecepatan penerapan HOTS juga tergantung usaha dan keseriusan pemerintah. Guru harus dilatih mengubah pola pikir dengan mengedepankan dialog.  

Sebelumnya, media sosial dalam beberapa hari belakangan ini menjadi gaduh dengan keluhan peserta Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang digelar pada 9 April hingga 12 April 2018. Hal itu terjadi karena soal UN terutama untuk mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia bagi peserta UN jurusan IPA yang tak sesuai dengan apa yang dibayangkan.   

Untuk peserta ujian jurusan IPS, soal yang dinilai tak sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan yakni Matematika dan Ekonomi. Mulai tahun ini, Kemdikbud mulai memberlakukan soal yang membutuhkan daya nalar tingkat tinggi atau high order thinking skills (HOTS) pada UN 2018.   

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas dari UN tersebut dengan memasukkan soal HOTS tersebut. Soal seperti itu nantinya akan menjadi standar pelaksanaan UN hingga 2025 sehingga mendeteksi kemampuan siswa.   

Untuk tahun ini, ada 10 persen dari jumlah soal untuk yang memerlukan daya nalar tinggi.

(http://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/04/15/p78f8o428-keluhan-siswa-tunjukkan-ketimpangan-pembelajaran-evaluasi)





Berita Lainnya :

   Kembali ke Atas

Kembali ke atas