Banner
Perpustakaan SMK N 1 BalikpapRadio Suara EdukasiDinas P & K Prov KaltimDITPSMK Kemdikbud RIBursa KerjaSimulasi Digital
Login Member
Username :
Password :
Jajak Pendapat
Apa saja yang telah dilakukan pada web sekolah SMKN 1 balikpapan
Sekedar Tahu dan Bangga
Memanfaatkan Fasilitas
Melakukan Interaksi
Melakukan KBM
Unduh dan Upload File
Lihat
Statistik

Total Hits : 1903675
Pengunjung : 345768
Hari ini : 383
Hits hari ini : 1805
Member : 835
IP : 54.163.19.57
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

humassmknsatubpn@yahoo.co.id    
Agenda
19 December 2018
M
S
S
R
K
J
S
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
Twitter

Tingkat Pendidikan Pengaruhi Risiko Hipertensi

Tanggal : 09-03-2018 09:39, dibaca 271 kali.

REPUBLIKA.CO.ID, Tingkat pendidikan ternyata mempengaruhi risiko seseorang terhadap hipertensi. Semakin rendah tingkat pendidikan, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami hipertensi. 

"Yang pendidikan rendah biasanya masalah gizi, gizi buruk, infeksi. Ternyata masalah vaksuler juga sama," ungkap Ketua Indonesian Society of Hypertension Dr dr Yuda Turana SpS dalam konferensi pers 12th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension, di Jakarta. 

Hal ini diketahui melalui sebuah data hipertensi yang melibatkan lebih dari 71 ribu orang dewasa. Sekitar 43 persen laki-laki dewasa yang tidak mengecap pendidikan sekolah tercatat mengalami hipertensi. Pada perempuan dengan latar belakang pendidikan yang sama, kasus hipertensi yang ditemukan mencapai 50,8 persen.      

Kasus hipertensi pada kelompok laki-laki dewasa dengan jenjang pendidikan terakhir SD diketahui sebesar 40,9 persen. Pada perempuan dengan jenjang pendidikan terakhir SD, kasus hipertensi ditemukan sebesar 43,3 persen. 

Di sisi lain, kasus hipertensi pada kelompok laki-laki dewasa dengan jejang pendidikan terakhir diploma adalah 25,8 persen. Kasus hipertensi pada kelompok perempuan dengan jenjang pendidikan yang sama adalah 15,1 persen. 

Pada kelompok laki-laki dewasa dengan jenjang pendidikan terakhir sarjana, kasus hipertensi yang ditemukan adalah 28,7 persen. Pada perempuan dewasa dengan jenjang pendidikan yang sama, kasus hipertensi yang ditemukan sebesar 16,6 persen. 

"Pada pendidikan rendah, prevalensi (hipertensi) lebih tinggi dibanding yang berpendidikan tinggi," lanjut Yuda. 

Temuan ini tentu menjadi tantangan yang cukup signifikan. Di satu sisi, data ini menunjukkan bahwa masalah vaskuler lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan jenjang pendidikan yang rendah. Di sisi lain, jenjang pendidikan yang rendah berkaitan dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait kesehatan. 

Pengetahuan dan kesadaran yang rendah pada penderita hipertensi berisiko membuat kondisi hipertensi tidak terkontrol dengan baik. Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan beragam komplikasi di kemudian hari. Beberapa komplikasi yang ditimbulkan dari hipertensi adalah gagal jantung dan gagal ginjal. 

"Menjadi tantangan kita bersama," jelas Yuda. 

Hipertensi pada dasarnya dipengaruhi oleh beragam faktor, baik faktor yang tidak bisa dimodifikasi dan faktor yang bisa dimodifikasi. Faktor-faktor risiko hipertensi yang tak bisa dimodifikasi meliputi usia, etnis dan riwayat keluarga (genetik). 

Di sisi lain, ada beberapa faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi, seperti pola makan, obesitas atau kegemukan serta kondisi penyakit lain, salah satunya diabetes mellitus tipe 2.

( http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/18/03/09/p5apkq359-tingkat-pendidikan-pengaruhi-risiko-hipertensi )



Pengirim : dms_rz


Artikel Lainnya :

   Kembali ke Atas

Kembali ke atas