Banner
SMAKENZA NEWS IN POCKETPerpustakaan SMK N 1 BalikpapRadio Suara EdukasiDinas P & K Prov KaltimDITPSMK Kemdikbud RIBursa Kerja
Login Member
Username :
Password :
Jajak Pendapat
Apa saja yang telah dilakukan pada web sekolah SMKN 1 balikpapan
Sekedar Tahu dan Bangga
Memanfaatkan Fasilitas
Melakukan Interaksi
Melakukan KBM
Unduh dan Upload File
Lihat
Statistik

Total Hits : 2089734
Pengunjung : 374720
Hari ini : 150
Hits hari ini : 297
Member : 835
IP : 34.207.146.166
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

humassmknsatubpn@yahoo.co.id    
Agenda
25 March 2019
M
S
S
R
K
J
S
24
25
26
27
28
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
Twitter

Yang Terjadi saat Terlalu Banyak Mengonsumsi Kopi

Tanggal : 10-01-2019 09:12, dibaca 72 kali.

Jakarta, CNN Indonesia -- Budaya minum kopi alias 'ngopi' lekat dengan masyarakat di berbagi belahan dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, sebagian orang berpikir belum lengkap rasanya jika memulai hari tanpa secangkir kopi.

Namun, bukan berarti Anda bisa sesukanya mengonsumsi kopi sebanyak mungkin. Konsumsi kopi perlu dilakukan dalam kadar wajar. 

European Food Safety Authority mengingatkan agar konsumsi kopi tak lebih dari empat cangkir dalam sehari. Empat cangkir setara dengan 400 miligram kopi espreso.

Jika kopi dikonsumsi berlebih, maka tubuh akan mengalami beberapa efek samping.

1. Kecemasan

Kafein jadi komponen utama dalam kopi. Kafein mampu meningkatkan kewaspadaan dengan menghalangi efek adenosin atau zat kimia otak yang membuat tubuh merasa lelah. Dalam waktu bersamaan, kafein memicu pelepasan hormon adrenalin yang meningkatkan energi. Dengan kata lain, asupan kafein menimbulkan kecemasan dan kegugupan.


Kandungan kafein dalam kopi bisa bervariasi. Mengutip Healthline, kopi berukuran besar dari Starbucks, misalnya, mengandung 330 miligram kafein.

2. Gangguan pencernaan

Kopi memiliki efek laksatif. Kopi berkontribusi dalam pelepasan gastrin yakni, hormon yang membuat perut mempercepat aktivitas pada usus besar. Efek serupa juga timbul pada kopi tanpa kafein sekalipun. 


Stimulasi gerakan usus meningkatkan kontraksi sehingga makanan dalam perut terus bergerak. Tak heran jika kelebihan konsumsi kopi bisa mengakibatkan buang air besar hingga diare pada tingkat yang lebih parah. 

Pada beberapa studi disebutkan bahwa minuman berkafein, termasuk kopi, bisa memperburuk gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung. 

3. Detak jantung cepat

Detak jantung cepat atau rasa berdebar bisa timbul jika konsumsi kopi tak bisa ditoleransi tubuh. 


Sebenarnya tak hanya kafein, jantung berdebar ini juga disebabkan oleh terlalu banyak konsumsi alkohol dan nikotin. 

Detak jantung cepat bisa mengakibatkan rasa pening bahkan pingsan. Tak ada solusi tepat selain memangkas konsumsi kopi. 

4. Sakit kepala

Dalam dosis tertentu, sebenarnya kafein dapat membantu menghilangkan sakit kepala. Kafein membuat obat pengurang rasa nyeri bekerja lebih baik. 


Namun sebaliknya, jika konsumsi kafein terlalu banyak atau lebih dari 500 miligram, orang bisa mengalami keracunan kafein. Gejalanya berupa sakit kepala dan kelelahan. 

Dalam secangkir kopi hitam, ada sekitar 50 hingga 235 miligram kandungan kafein. Selain dari kopi, kafein juga bisa didapat dari teh hitam, soda, minuman berenergi, dan cokelat batang. 

Sakit kepala bisa jadi penanda bahwa konsumsi kafein, baik dari kopi dan bahan makanan lainnya, dilakukan secara berlebih.

5. Insomnia

Kopi membantu orang untuk tetap terjaga. Di sisi lain, konsumsi berlebihan bisa membuat orang sulit tidur. 


Studi menemukan, semakin tinggi kafein yang masuk ke tubuh semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk tidur. Pada orang dewasa, ini jelas bisa memangkas waktu tidur mereka. 

Sebaliknya, konsumsi kafein yang moderat tak akan berpengaruh pada kebiasaan tidur bahkan pada mereka yang mengidentifikasi diri mengidap insomnia. 

6. Tekanan darah tinggi

Secara umum, kopi tidak meningkatkan risiko penyakit jantung atau stroke. Namun, kafein menunjukkan efek meningkatkan tekanan darah pada beberapa studi.


Naiknya tekanan darah menjadi faktor risiko serangan jantung dan stroke karena kondisi ini bisa merusak pembuluh arteri jika terjadi terus-menerus. (els/asr)



Pengirim : dms_rz


Artikel Lainnya :

   Kembali ke Atas

Kembali ke atas